HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN SEBELUM PACKING
Kondisi Awal
Harga beli ikan sidat bisa menjadi tidak maksimal, turun atau dengan kata lain pendapatan tidak seperti yang telah dikalkulasi sebelumnya. Atau juga di-reject ditempat eksportir karena tidak memenuhi syarat. Padahal biaya pengiriman via pesawat udara cukup signifikan. Sebelum ikan sidat dikirim kepada eksportir, tidak serta merta ikan sidat sudah ada, sudah terkumpul dalam jumlah cukup banyak dan dalam kurun waktu singkat. Sangat mungkin sekali ikan sidat dikumpulkan dari berbagai sungai, danau atau waduk lalu ditempatkan dalam salah satu wadah entah itu kolam, jaring apung atau dimasukkan kedalam drum. Untuk mengejar kuantitas, terlupakanlah aspek kualitas yang mungkin sidatnya sudah luka,loyo atau bahkan mata pancing masih ada diperut dll.
Proses Penangkapan dan Pengumpulan
Agar eksportir bisa menerima sidat kiriman secara maksimal seperti yang kita kehendaki maka beberapa hal harus diperhatikan :
1. Sebaiknya sidat ditangkap dengan alat seperti bubu, hindarkan penangkapan dengan strum listrik dan pancing.
2. Tempatkan sidat ditempat pengumpulan yang memenuhi syarat yakni cukup luas dengan jumlah sidat yang ada, beri makan yang cukup agar mereka tidak saling mengkanibalisasi satu sama lain, dinding kolam atau jaring apung yang tidak tajam yang bisa membuat luka tubuh sidat.
3. Periksa apakah ada mata pancing didalam perut sidat dengan meraba atau mengelus perutnya.
4. Yang luka, loyo, terdapat mata pancing ditubuh sidat dan hal-hal lain yang akan bisa menjadi alasan penolakan dari pembeli, segera dikeluarkan agar tidak terikut dalam pengiriman.
5. Dengan demikian maka harga beli ikan sidat akan tetap tinggi sesuai harga yang disepakati.
Persiapan Pengepakan Sidat
Agar ikan sidat sampai ketangan eksportir dalam keadaan baik, beberapa hal perlu diperhatikan oleh
pihak penjual seperti :
1. Ikan sidat diseleksi secara ketat mana yang memenuhi syarat dan mana yang tidak memenuhi syarat. Yang memenuhi syarat adalah : sidat tanpa cacad, segar dan mampu bergerak dengan leluasa, tidak ada luka disekujur tubuh, tidak ada mata pancing yang tersangkut ditubuh maupun ada didalam perut ikan.
2. Sebelum dikirim, ikan terlebih dahulu dipuasakan selama 1 hari – 2 hari agar pada saat pengiriman
tidak ada kotoran yang dibuang didalam kantong plastik yang merupakan racun bagi ikan sidat.
3. Dengan kata lain bahwa sejak awal penangkapan sampai dengan pengumpulan menunggu banyak sampai ikan akan dipack maka pengawasan dan seleksi terus berproses sedemikian rupa agar pihak eksportir beli ikan sidat tidak mengalami masalah saat ikan dibawa dari kargo pesawat menuju gudang untuk dimasukkan kedalam kolam, disortir dan diistirahatkan 1 atau 2 hari sebelum dikirim keluar negeri.
Fluktuasi Harga
Harga beli ikan sidat tidak selamanya permanen karena tergantung pengadaan dari daerah, misalnya ada waktu-waktu yang sulit menangkap sidat dan ada waktu musim sidat terlihat dimana-mana. Dari segi pembeli terutama dinegara Tiongkok, Jepang dan lain-lain ada semacam budaya atau kebiasaan kapan harus makan ikan yang banyak, kapan tidak boleh makan daging dan darah. Sebut saja Hari Raya Imlek yang merupakan tidak ada larangan untuk makan ikan dan daging maka harga beli ikan sidat mencapai puncaknya, sedang ada saat dimana orang dilarang makan ikan dan daging maka harga sidat akan turun. Dengan mencermati kalender seperti itu maka kita akan dapat memprediksi kapan cari sidat secara maksimal dan kapan agak nyantai.
Ekspor Benih Sidat Ilegal Marak Ke China & Malaysia
Published on April 17, 2014, by budidayaikan - Posted in Berita 0
bibit sidat glass eel
Peraturan laragan eksporbenih sidat atau glass eel dari Indonesia ke Malaysia dan China secara ilegal terus berlangsung.
Direktur Produksi Ditjen Perikanan Budidaya KKP Coco Kokarkin Soetrisno menuturkan di sektor budidaya air laut, Indonesia memiliki potensial untuk mengembangkan komoditas sidat. Namun, budidaya pembesaran sidat belum banyak diminati.
“Sidat sebenarnya potensial. Tapi pembesarannya masih kurang banyak, baru ada di Cirebon, Sukabumi, Pelabuhan Ratu, dan Banyuwangi,” kata Coco, Selasa (15/4).
Coco mengatakan budidaya sidat di Cirebon dimiliki oleh investor asal China, sedangkan di Pelabuhan Ratu, Sukabumi investornya berasal dari Jepang dan Korea. Investor lokal yang terjun ke budidaya sidat hanya yang berlokasi di Banyuwangi.
Terbatasnya minat investasi budidaya sidat, memicu ekspor benih ilegal. Pasalnya, benih yang ditangkap di alam, tidak terserap kalangan pembudidaya lokal.
Sejak 2009, lanjutnya, pemerintah telah melarang ekspor benih sidat melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.18/2009 tentang Larangan Pengeluaran Benih Sidat (Anguilla Sp). Dalam regulasi tersebut, sidat yang boleh diekspor adalah yang berukuran lebih atau sama dengan 150 gram.
Kendati sudah dilarang dengan beleid tersebut, benih jenis glass eel berukuran 0,17 gram, elfer 3 gram, dan finger ling 20 gram banyak diselundupkan ke luar negeri.
“Benih sidat tidak boleh diekspor, tapi kenyataannya masih banyak penyelundupan lewat pelabuhan tikus. Yang terbesar itu ke Malaysia, setelah itu diekspor lagi ke Korea, Hongkong, China, dan Jepang,” katanya.
Coco menuturkan ekspor ilegal juga didorong oleh tingginya nilai ekonomis benih sidat. Dari Indonesia, 1 Kg benih dijual seharga Rp15 juta, kemudian naik menjadi Rp30 juta/Kg. Ketika tiba di Jepang, harganya melambung 10 kali lipat menjadi Rp300 juta/Kg.
“Korea dan Jepang itu punya budaya pembesaran sidat, jadi mereka juga kurang berminat untuk beli sidat dewasa. Dari 1 Kg benih ada sekitar 500 ekor sidat, kalau sudah dewasa harganya Rp500.000-700.000/Kg,” katanya.
Maraknya ekspor ilegal juga dikhawatirkan menurunkan populasi sidat di alam liar. Hal tersebut telah dialami oleh Jepang yang mengalami penurunan populasi sidat, bahkan diambang kepunahan.
Berdasarkan data KKP, wilayah penangkapan ikan sidat jenis glass eel berada di Pelabuhan Ratu, Cilacap, Purworejo, dan Jember dengan kapasitas tangkapan mencapai 4.553 ton pada 2000 dan anjlok menjadi 1.149 ton pada 2010. (Sumber : Bisnis


Tidak ada komentar:
Posting Komentar